MELAHIRKAN ANAK-ANAK PERADABAN

“kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh, sekirannya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(QS.Ali Imron 3:110).
sebuah peradaban pasti mengalami masa-masa pertumbuhan, konsolidasi, keemasan, pembusukan dan kemudian keruntuhan. dan kaidah Alqur’an sebagai mudawalah(pergiliran). “Jika kamu(pada perang uhud) mendapat luka, maka sesunggguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang badar) mendapat luka yang serupa, dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Alloh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) Syuhada, dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim.”(QS. Ali Imron : 140).
Menyelami jatuh bangunnya sebuah peradaban selalu bergaris pada dua hal yaitu era kebangkitan dan era keruntuhan. Perbedaan antara keduannya terletak pada titik kulminasi yang dilewatinya. Pasca jatuhnya khilafah terakhir di Turki pada tahun 1924 H, jelas arah perjuangan peradaban islam memasuki era baru yang kita sebut sebagai masa kebangkitan, inilah sunnatulloh yang berlaku bagi kita yaitu beban perjuangan untuk mengembalikan Al Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).
Ibnu Khaldun menyatkan kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Beliau menegaskan bahwa “Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat di kalangan mereka, jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.”
Ibnu Khaldun meringkas sepuluh perkara yang menyebabkan jatuhnya sebuah peradaban, yaitu:
1. rusaknya moralitas penguasa
2. Penindasan penguasa dan ketidak adilan
3. despotisme atau kedzaliman
4. Orientasi kemewahan masyarakat
5. egoisme
6. Opportunisme
7. Penarikan pajak secara berlebihan, keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat
9. Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama
10. penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.
Sebaliknya bangkitnya suatu peradaban membutuhkan perbaikan moral dan penguasaan ilmu pengetahuan, jika umat Islam ingin membangun kembali peradabannya, mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa ini kebangkitan Islam hanya akan menjadi utopia belaka.
Salah satu ciri terpenting peradaban Islam adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan, dan ini telah terbukti bahwa perjalanan panjang peradaban Islam diwarnai oleh lahirnya ilmuwan Muslim dalam berbagai bidang dengan prestasi dalam bidang masing-masing. salah satu pertanda kemunduran ummat Islam yang banyak disoroti adalah merosotnya cendikiawan Muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam. Meskipun ada pula yang menyoroti kemunduran bidang ekonomi, politik dan budaya.
Kondisi umat saat ini tak ubahnya seperti seekor domba yang berada di tengah-tengah srigala lapar. Dicabik dari kanan dan kiri, digerogoti dari depan dan belakang serta terkoyak-koyak dari segala arah. Menjauhkan umat ini dari tuntunan yang syar’i dan syamil telah membuat umat ini terombang-ambing ditengah laut luas. Umat kehilangan jati diri dan Izzah (kemuliaan). umat ini menjadi umat yang terpinggirkan, teraniaya, tersiksa tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqoroh : 155).
Tetapi garis kebangkitan itu adalah suatu keniscayaan, kemenangan Al-Haq atas kebathilan adalah sunnatulloh yang pasti terjadi, karenannya kita harus menumbuhkan optimisme dalam diri kita akan datangnya kemenangan itu. walau untuk menebusnya harus melalui perjuangan melelahkan dan berdarah-darah.
kita sebagai anak yang lahir dari rahim Islam seharusnya menyadari dan mampu memerankan diri sebagai arsitek-arsitek peradaban Islam Seorang arsitek peradaban Islam dituntut untuk menciptakan desain terlebih dahulu untuk peradaban yang akan ia bangun, kita harus mampu menghadirkan dalam fikiran kita, peradaban yang bagaimana yang kita inginkan.
Wassalam

SUMBER AJARAN ISLAM

SUMBER AJARAN ISLAM
(al-Quran)
Al-Quran Sebagai Landasan Konsepsional
Definisi dan sejarah al-Quran
Kandungan & nama-nama al-Quran
Al-Quran sebagai mukjizat nabi Muhammad saw
Al-Quran sebagai hidayat yang sempurna
Komitmen terhadap al-Quran
Kedudukan dan fungsi al-Quran
Definisi al-Quran
“wahyu Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw secara lafad, makna, serta gaya bahasanya, yang termaktub dalam mushaf yang disalin secara mutawatir (Dr. Daud al-Attar)
Pengertian Wahyu
Etimologi
Isyarat (QS Maryam 19: 11)
Pemberitahuan secara rahasia (QS Al-An’am 6: 112)
Ilham yang diberikan kepada binatang (QS Al-Nahl 16: 68)
Ilham yang diberikan kepada manusia (QS Al-Qoshshosh 28: 7)
Terminologi
Pengetahuan yang didapat seseorang di dalam dirinya serta diyakini bahwa pengetahuan tersebut datang dari Allah, baik dengan perantaraan suara, tanpa suara, atau tanpa perantaraan
Macam Komunikasi Allah kepada Manusia
Pewahyuan: kebenaran yang disampaikan ke dalam kalbu atau jiwa seseorang tanpa mukaddimah dan kebenaran itu menjadi terang bagi yang bersangkutan.
Suara dari balik tirai/hijab: panggilan Allah kepada nabi Musa dari balik pohon
Megutus utusan/malaikat: kabar dari Tuhan yang disampaikan melalui malaikat Jibril dengan kata-kata yang diucapkan. (QS 42: 51)
Sejarah al-Quran
Periode sebelum hijrah (al-Makkiyah)
Periode pertama (4-5 tahun)
 Pendidikan bagi Rasulullah saw
 Pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah
 Keterangan mengenai dasar akhlak Islamiah
Periode kedua (8-9 tahun)
 Kewajiban prinsipil para penganutnya sesuai saat itu (QS 16: 125)
 Argumentasi keesaan Allah dan kepastian hari kiamat (QS 36: 78-82)
Periode setelah hijrah (al-Madaniyah)
Kandungan al-Quran
• Pokok-pokok keyakinan
• Pokok-pokok peraturan
• Pokok-pokok nilai dasar dan tingkah laku
• Petunjuk dasar tentang tanda-tanda alam
• Kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu
• Alam ghaib
Nama-nama al-Quran
Al-Kitab (QS 44:2)
Al-Kalam (QS: 9:6)
Al-Zikra (QS 15:9)
Al-Qoshshash (QS 3: 62)
Al-Huda (QS 9:33)
Al-Furqan (QS25:1)
Al-Mauizah (QS 10:57)
Al-Syifa’ (QS 17:82)
Al-Nur (QS 4:174)
Al-Rahmah (QS 27:77)
Aspek kemukjizatan al-Quran
Aspek bahasa (QS 41: 39; QS 3: 58; QS 2: 183)
Aspek sejarah (QS 30: 2-6)
Isyarat tentang ilmu pengetahuan (QS 21: 30)
Konsistensi ajaran selama proses penurunan (QS 4: 82)
Keberadaan Muhammad saw sebagai “ummi” (QS 29: 48)
Kemukjizatan Al-Quran pada aspek bahasa
Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (al-hayyah dan al-mawt = 145 x)
Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan sinonimnya (al-jahr dan al-’alaniyah = 16x)
Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk pada akibatnya (al-zakat dan al-barakah = 32x)
Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya (al-asra dan al-harb = 6x)
Keseimbangan-keseimbangan khusus (yawm = 365; ayyam dan yawmayni = 30x; syahr = 12x)
Abdurrazaq Nawfal “al-I’jaz al-Adabiy li al-Quran al-Karim
Al-Quran sebagai hidayah sempurna
Al-Quran membawa tata nilai yang mengungguli tata nilai yang ada, menyentuh segala potensi dasar manusia, dan merambah segala aspek dan dimensi kehidupan manusia ( QS, 49: 13; QS 2: 25-26; QS 5: 2)
Al-Quran memberi identitas, asal usul dan kesudahannya.
Al-Quran membimbing untuk memahami hakikat kehidupan yang sejati
Al-Quran memotivasi untuk mengisi hidup dengan dinamis dan optimis
Komitmen terhadap al-Quran
Mengimani al-Quran (al-Nisa 4: 136)
Mempelajari al-Quran (al-’Araf 7: 204)
Mengamalkan al-Quran (al-Insan 76: 24)
Mendakwahkan al-Quran (Ali Imran 3: 110)
Kedudukan dan fungsi al-Quran
Sebagai sumber ajaran yang pertama
Menegaskan aspek akidah dan ibadah
Mengajarkan pengalaman kisah umat terdahulu
Memberi kabar gembira dan peringatan
Menjadi pedoman dan rahmat (QS 27: 77)
Sebagai obat segala penyakit rohani (QS 17:82; QS 13: 28)
Memotivasi kemajuan ilmu dan teknologi (QS 55: 33)
Menjawab problem kehidupan manusia
Sumber Ajaran Islam
Hadis sebagai landasan operasional
 Pengertian hadits/sunnah
 Unsur-unsur hadits/sunnah
 Sejarah hadits/sunnah
 Klasifikasi hadits/sunnah
 Kedudukan dan fungsi hadits/sunnah
Pengertian hadits/sunnah
 Pengertian hadits:
 Segala sesuatu yang dikaitkan kepada Muhammad saw, baik ucapan, perbuatan, dan ketetapannya.
 Pengertian sunnah:
 Segala sesuatu yang dikaitkan kepada Muhammad saw, baik ucapan, perbuatan, dan ketetapannya; baik sifat fisik dan psikis; baik sebelum dan sesudah menjadi Rasul.
Unsur-unsur hadits/sunnah
 Rawi : seseorang yang menerima dan menyampaikan berita
 Sanad : rangkaian orang-orang yang menerima dan menyampaikan berita
 Matan : materi berita/kandungan berita yang diterima dan disampaikan

 diperlukan penguasaan ilmu hadis yang mendalam. Pokok bahasan naqd as-sanad adalah sebagai berikut.
( 1) Ittisal as-sanad (persambungan sanad). Dalam hal ini tidak dibenarkan adanya rangkaian sanad yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya ( wahm) atau samar .
(2) Tsiqah as-sanad, yakni sifat ‘adl (adil), dabit (cermat dan kuat), dan siqah (terpercaya) yang harus dimiliki seorang periwayat.
(3) Syai’i, yakni kejanggalan yang terdapat atau bersumber dari sanad. Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang siqah tetapi menyendiri dan bertentangan dengan hadis yang diriwavatkan oleh periwayat-periwayat siqah lainnva.
(4) ‘Illah, yakni cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang kelihatannya baik atau sempurna. Syazz dan ‘illah adakalanya terdapat juga pada matan dan untuk menelitinya

Kajian terhadap masalah-masalah yang menyangkut matan disebut naqd al-matn (kritik matan) atau kritik intern. Disebut demikian karena yang dibahasnya adalah materi hadis itu sendiri, yakni perkataan, perbuatan atau ketetapan Rasulullah SAW. Pokok pembahasannya meliputi:
(1) rakakah al-lafz yakni kejanggalan-kejanggalan dari segi redaksi
(2) fasad al-ma ‘na, yakni terdapat cacat atau kejanggalan pada makna hadis karena bertentangan dengan al-hiss (indera) dan akal, bertentangan dengan nas Al-Qur’ an, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang terjadi pada masa Nabi SAW serta mencerminkan fanatisme golongan yang berlebihan
(3) kata-kata garib (asing), yakni kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal
Sejarah hadis

 Masa Nabi Muhammad saw
 Masa kekhalifahan
 Masa kerajaan-kerajaan Islam
Kuantitas hadis
 Mutawatir : hadis yang diriwayatkan oleh banyak rawi pada setiap generasinya/thabaqah, yang mustahil semuanya sepakat berdusta
 Ahad : hadis yang diriwayatkan oleh seseorang atau beberapa yang tidak mencapai derajat mutawatir
Kualitas hadis
 Shahih: berita yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna daya ingatnya, bersambung sanadnya, tidak tercela prilakunya (illat), dan tidak asing/syadz terhadap al-Quran dan nilai universal.
 Hasan: berita yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, kurang sempurna daya ingatnya, bersambung sanadnya, tidak tercela prilakunya (illat), dan tidak asing/syadz terhadap al-Quran dan nilai universal.
 Dhaif : berita yang kehilangan salah satu dari kriteria hadis shohih maupun hasan

Kualitas Hadis
Hadis Sohih Hadis Hasan Hadis Dhoif
Rawi Adil Adil
Cerdas Kurang Cerdas
Perilaku baik Perilaku baik
Sanad Bersambung Bersambung
Matan Sesuai dengan al-Quran Sesuai dengan al-Quran
Sesuai dengan nilai Universal Sesuai dengan nilai Universal

Kedudukan dan fungsi hadis
 Sebagai sumber ajaran kedua Islam
 Sebagai tafsiran al-Quran (tabyin)
 Sebagai penguat al-Quran (ta’kid)
 Sebagai pembuat hukum (tasyri’)
Kedudukan dan fungsi hadis (ljt)
 Sebagai sumber ajaran kedua Islam
 Periwayatan al-Quran bersifat qathiy al-wurud
 Periwayatan al-Hadis bersifat zhanniy al-wurud
 Sebagai penguat al-Quran (ta’kid )
 menerangkan posisi kewajiban atau larangan syariat
 menjelaskan sangsi hukum bagi pelanggarnya
 menegaskan kedudukan hukum

 Sebagai tafsiran al-Quran ( tabyin )
 menjelaskan makna-makan yang rumit : sholat wustha
 mengikat makna-makna yang bersifat lepas (taqyid al-mutlak): pencuri dipotong tangannya
 mengkhususkan ketetapan yang umum (takhsish al-’am): jual beli
 menjelaskan ruang lingkup masalah: kewajiban haji
 menjelaskan mekanisme pelaksanaan dari hukum yang ditetapkan : sholat
 Sebagai pembuat hukum (tasyri’)

Hadits Qudsi

IJTIHAD
Sebagai Upaya Mewujudkan dan Melestarikan Agama
Pengertian
 (Bahasa)
 Ijtihad berarti “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.” (Ibrahim Hosen)
 (Istilah)
 Ijtihad : berusaha sekeras-kerasnya untuk membentuk penilaian yang bebas tentang sesuatu masalah hukum (Mukti Ali)
 Ijtihad : upaya mencurahkan segenap kemampuan untuk merumuskan hukum syara’ dengan cara istinbath dari al-Quran dan al-Hadis.
Dalil Ijtihad
 Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan (berdasarkan) hukum yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (bagi orang yang tidak bersalah) karena (terkecoh) oleh orang-orang yang berkhianat (al-Nisa: 105)
 Dan tidaklah Kami menurunkan Kitab (Quran) kepadamu (Muhammad), melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan di dalamnya, dan sebagai hidayah serta rahmat bagi kaum yang beriman (al-Nahl: 64)

 Dari Muaz bin Jabal
Bagimana (cara) kamu menyelesaikan perkara jika kepadamu dimajukan suatu perkara? ……… Muaz menjawab, “Akan aku putuskan menurut hukum yang ada dalam Sunah Rasul Allah, jawab Muaz lebih jauh. Kalau tidak juga kamu jumpai dalam Sunah Rasul Allah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Nabi mengakhiri pertanyaannya. Muaz menjawab , Aku akan berijtihad dengan saksama. Kemudian Rasul pun mengakhiri dialognya sambil menepuk-nepuk dada Muaz seraya beliau bersabda, “Segala puji hanya teruntuk Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasul-Nya jalan yang diridai Rasul Allah (HR. Abu Dawud)
 Dari Umar ibn Khattab
Aku memeluk istriku dan kemudian aku menciumnya, padahal aku sedang berpuasa. Kemudian aku menghadap Rasul Allah seraya aku bertanya, “Sungguh aku telah melakukan suatu perbuatan yang luar biasa, aku mencium istriku padahal aku berpuasa. Rasul Allah bertanya kepada Umar, Bagaimana pendapatmu kalau engkau berkumur dengan air (sedangkan engkau dalam keadaan puasa). Umar menjawab, Menurut pendapatku itu tidak mengapa (tidak membatalkan puasa). Kalau begitu, kata Nabi, teruskan puasamu. (HR al-Darimi)

Objek Ijtihad
 Objek ijtihad adalah perbuatan yang secara eksplisit tidak terdapat dalam al-Quran dan al-Hadis
 Objek ijtihad tidak berlaku pada dimensi ibadah mahdhah atau perumusan hukum aktivitas ibadah formal kepada Allah.
Syarat Ijtihad
 Persyaratan Umum (al-ammah)
 Baligh
 Berakal sehat
 Kuat daya nalarnya
 Mukmin
 Persyaratan Pokok (asasiyyah)
 Mengetahui al-Quran
 Memahami Sunnah
 Memahami maksud hukum syara’
 Mengetahui kaidah umum hukum Islam
 Persyaratan Penting (hammah)
 Menguasai bahasa Arab
 Mengetahui ilmu ushul al-fiqh
 Mengetahui ilmu manthiq/logika
 Mengetahui hukum asal perkara (baraah asliyah)
 Persyaratan Pelengkap (takmiliyyah)
 Tidak ada dalil qathi (pasti) bagi masalah yang diijtihadi
 Mengetahui tempat khilafiyah
 Memelihara kesalehan diri
Muhammad Musa
 Mujtahid mustaqil : mujtahid yang mampu menggali hukum-hukum syariat langsung dari sumbernya yang terpokok dan dalam meng-istinbat-kan hukum, mempu-nyai dasar istinbath sendiri.
 Mujtahid muntasib: mujtahid yang dalam meng-istinbat-kan hukum mengikuti ushul al-istinbat imam mazhab tertentu walau berbeda dalam furu’ dengan imamnya.
 Mujtahid madzhab: mujtahid yang mengikuti imam mazhabnya baik dalam ushul maupun furu’.
 Mujtahid murajjih: mujtahid yang tidak meng-istinbat-kan hukum furu’, tetapi hanya membandingkan pendapat mujtahid yang ada untuk memilih yang kuat.
 Mujtahid mustadil: ulama yang tidak mengadakan tarjih terhadap pendapat yang ada, tetapi mengemuka-kan berbagai dalil pendapat yang ada tanpa tarjih
Metode Ijtihad
 Qiyas (reasoning by analog), yaitu menerapkan hukum perbuatan tertentu kepada perbuatan lain yang memiliki kesamaan.
 Istihsan, yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti prinsip keadilan dan kasih sayang.
Masalihul mursalah, yaitu menetapkan hukum berdasarkan tujuan kegunaan atau kemanfaat-annya sesuai dengan tujuan syari’at

Beda Istihsan dan Masalih al-mursalah
 Perbedaan Istihsan dan Masalih al-mursalah adalah:
 Istihsan menggunakan konsiderasi hukum-hukum universal dari al-Quran dan al-Hadis
 Masalih al-mursalah menekankan pada kemanfaatan perbuatan dan kaitannya dengan tujuan universal syari’at Islam

KONSEPSI ALAM SEMESTA

Konsepsi Alam Semesta

Konsep al-Quran tentang Alam
 Penciptaan alam semesta (QS 6: 101)
 Pemisahan langit dan bumi (QS 21: 30; QS 41: 11-12;QS 7: 54)
 Bentuk bulat planet bumi (QS 39: 5)
 Langit yang mengembalikan (QS 86: 11)
 Mengembangnya alam semesta (QS 51: 47)
 Benda langit berjalan pada garis edarnya (QS 21: 33)
 Bumi memiliki atap yang memelihara (QS 21: 32)
QS 21: 30; QS 41: 11-12

QS 39:5; QS 86:11; QS 51: 47; QS 21:33

Hadits Penciptaan Alam Semesta
 Hadits At-Thabari nomor 17.971 yang terdapat dalam Shahih Muslim menjelaskan bahwa alam semesta tercipta dalam 7 hari. Menurut hadits tersebut, Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu. Lalu, menciptakan gunung pada hari Ahad dan pepohonan di hari Senin. Kemudian menciptakan hal-hal negatif pada hari Selasa, cahaya di hari Rabu, dan mengembangbiakkan ciptaannya pada hari Kamis. Terakhir, Allah menciptakan Adam pada hari Jum’at ba’da Ashar.
Teori penciptaan alam semesta
 Steady state : kerapatan jagad raya adalah tetap/tidak berubah. Galaksi baru yang tercipta akan membuat jagad raya tampak sama tidak hanya dari tempat yang berbeda tetapi juga sepanjang masa.
 Unsteady state: setiap galaksi bergerak saling menjauhi sehingga kerapatan jagad raya lebih besar.
Teori unsteady state (big bang)
Menurut kosmologi big bang, sistem tata surya kita terbentuk 5 milyar tahun yang lalu. Bintang-bintang tertua diduga terbentuk 10 milyar tahun yang lalu dan banyak di antaranya telah menamatkan riwayatnya sebagai supernova (awan raksasa hasil ledakan bintang) atau berevolusi menjadi bintang katai putih atau lubang hitam. Pembentukan galaksi terjadi sekitar 13-14 milyar tahun yang lalu. Sebelum itu seluruh jagad raya hanya terdiri dari gas hidrogen, helium, dan radiasi. Tetapi gravitasi tetap berpengaruh besar pada strukturnya. Hampir 15 milyar tahun yang lalu atau sekitar 700.000 tahun setelah big bang, antara radiasi dengan materi tidak lagi terjadi pergandengan. Pada saat ini elektron dan proton purba bergabung membentuk hidrogen (masa ini adalah masa pembentukan atom-ataom) Sebelum itu keduanya berada dalam keadaan bebas dengan dukungan kekuatan medan elektromagnetik.

Teori unsteady state (big bang)
Pada masa antara 700.000 tahun sampai dengan 225 detik setelah big bang terjadi pembentukan inti atom. Partikel-partikel dasar mulai terbentuk pada 0,0000001 detik. Pada saat 10 pangkat 43 detik (1043) setelah big bang yang disebut “waktu plank” , antara satu partikel dengan partikel lainnya tidak bisa dibedakan. Partikel tersebut tersusun dalam model quark.

Bagaimana masa depan jagad raya ?
 Pertama, jagad raya terus mengembang selamanya (jagad raya akan menggunakan seluruh energi yang dimilikinya sampai habis sehingga menjadi dingin dan gelap)
 Kedua, pengembangan jagad raya secara perlahan akan berhenti dan diikuti dengan penyusunan gravitasi serta seluruh jagad raya luluh menjadi satu titik dan akan menjadi big bang selanjutnya.

Hubungan manusia dengan alam semesta
 Hubungan historis
• Kapankah manusia pertama hadir di dunia?
• Mahluk apakah yang menjadi nenek moyang manusia dan bagaimana proses penurunan dan perubahan-perubahannya?
Ramapithecus (15 juta), Oreopithecus (12 juta), Australopithecus (4 juta), Pithecanthropus Erectus (½ juta), Neanderthal (1-1/2 juta), Homo sapien (100 ribu), Hewan tak bertulang belakang (600 juta), Hewan bertulang belakang (350 juta), Hewan menyusui (180 juta), Burung (135 juta)
Hubungan manusia dengan alam semesta
 Hubungan fungsional
• Kemajuan pengetahuan dan teknologi manusia terhadap alam menempatkan posisi alam sebagai sumber kehidupan yang tiada batasnya bagi manusia. Manusia harus tunduk pada hukum alam, namun ia dapat mengatasi hukum alam.
Peran Sains dalam Mengenal Tuhan
 Ayat-ayat yang menggambarkan elemen-elemen pokok obyek atau menyuruh manusia untuk menyingkapkannya (QS 86: 5; QS 24: 4-5; QS 76: 2)
 Ayat-ayat yang mencakup maslah cara penciptaan obyek-obyek material maupun yang menyuruh manusia untuk menyingkap asal-usulnya (QS 11 : 7; QS 23: 12-14; QS 21 : 30; QS 31 : 10 ; QS 41: 11)
 Ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk mempelajari fenomena alam (Qs 39: 21; Qs 30: 48; Qs 2: 164
 Ayat-ayat yang menunjukan bahwa Allah bersumpah dengan berbagai objek alam (Qs 91: 1-6; Qs 86: 1-3)
Peran Sains dalam Mengenal Tuhan
 Ayat-ayat yang menekankan kelangsungan dan keteraturan penciptaan Allah
 Ayat-ayat yang menjelaskan keharmonisan keberadaan manusia dengan alam fisika dan ketundukan apa yang ada di langit dan di bumi kepada manusia

KONSEPSI KEMANUSIAAN

Konsepsi Kemanusiaan
Pemikiran tentang Manusia
 Teori Psikoanalis: manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Perilaku manusia adalah hasil interaksi antara biologis (id), psikologis (ego), dan sosial (superego)
 Teori Behaviorisme: manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin). Perilaku manusia adalah hasil pembelajaran terhadap lingkungannya, bukan oleh aspek rasional dan emosionalnya
 Teori Kognitif: manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Perilaku manusia adalah hasil usaha memahami/berpikir atas lingkungannya.
 Teori Humanisme: manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Perilaku manusia adalah untuk mempertahankan, menigkatkann, dan mengaktualisasikan diri.
Konsep-konsep Antropologis
Dalam al-Quran terdapat beberapa istilah:
Al-Basyar, al-Insan, al-Nas, Bani Adam, dan ‘Abd
Kata “Basyar” : aspek biologis (QS 3: 47: QS 18: 110; QS 41: 6 dll)
Kata “Insan” memuat 3 aspek/kategori:
 Insan: mahluk yang istimewa sbg khalifah dan pengemban amanah
 Insan: predisposisi negatif pada diri manusia
 Insan: proses penciptaan manusia
Kategori kata “al-Insan”
 Insan memuat 3 kategori:
 Insan: mahluk yang istimewa sbg khalifah dan pengemban amanah
 Wujud yang berbeda dengan hewan (QS 96: 4-5; QS 55: 3; QS 79: 35)
 Mahluk yang memikul amanah dan tanggung jawab (QS 33: 72; QS 75: 36; QS 50: 16)
 Ketundukan pada amanah dipengaruhi oleh lingkungannya (QS 10: 12; QS 11: 9)
 Insan: predisposisi negatif pada diri manusia:
 Zholim dan kafir (QS 14: 34; QS 22: 66)
 Tergesa-gesa (QS 17: 11; QS 21 : 37)
 Bakhil (QS 17: 100)
 Bodoh (QS 33: 72)
 Banyak membantah (QS 18: 54; QS 16: 4; QS 36: 77)
 Resah dan gelisah (QS 70: 19, 20, 21)
 Susah payah & menderita (QS 84: 6; QS 90: 4)
 Tidak berterima kasih (QS 100: 6)
 Insan: proses penciptaan manusia (komponen biologis)
 Unsur pembentuknya:
 Turab: tanah gemuk (QS 18: 37)
 Thiin: tanah lempung (QS 32: 7)
 Tihinul laazib: tanah lempung pekat (QS 37: 11)
 Shalshalun : lempung/tembikar (QS 55: 14)
 Shalshalun min hamaim masnun : lempung dari lumpur (QS 15: 26)
 Sulalatun min tiin : sari pati lempung (QS 23: 12)
 Al-Maa : air (QS 25: 54)
 Reproduksi manusia (QS 80: 19; QS 75: 37-38; QS 23: 14)
 Reproduksi manusia
 Tanah liat, saripati tanah, tanah, air (QS 15: 26; QS 55: 14; QS 23: 12; QS 32: 7; QS 15 : 28-29)
 Ruh dan nafas manusia (QS 38: 71-72; QS 17: 85; QS 39: 42; QS 6: 93; QS 3: 185)

Kata “Bani Adam” : aspek historis penciptaan manusia (QS 7: 31)
Kata “‘Abd” : aspek posisi/kedudukan manusia (QS 34: 9)
Kata “Al-Nas” : aspek sosiologis manusia
Pertama, kelompok sosial dengan karakteristik tertentu
QS. 2: 8; QS 2: 165; QS 2: 200; QS 2: 204; QS 22: 3,8; QS 22: 11
Kedua, kelompok sosial dengan kwalitas rendah, baik ilmu maupun iman
QS 7: 187; QS 40: 61; QS 11: 17; QS 5: 49; QS 10: 92; QS 22: 18
Ketiga, kelompok sosial yang dihubungkan dengan petunjuk atau al-kitab
QS 57: 25; QS 4: 170; QS 14: 1; QS 24: 35; QS 39: 27

Paguyuban Puyuh Kalapa Jaya Desa Glempang